Berita Baru dan Telinga Lama
“Berita baru tidak bisa masuk ke telinga lama”, demikian kata Rumi dalam rubaiyatnya yang berjudul ‘Jalannya Sempit’.
Pesan ini sangat jelas dan relevan bagi kita sekarang yang sedang dalam proses untuk menuju sesuatu yang baru. Kita tidak mungkin bisa mendengar nasihat-nasihat baru, jalan-jalan baru, kalau kita tidak mengubah telinga kita menjadi telinga baru yang sanggup mendengar dengan cara-cara baru, kalau kita tidak mengubah pikiran kita menjadi pikiran baru dan terbuka yang sanggup mendengar dan memahami ide-ide baru yang mungkin jauh berbeda dengan segala yang kita lihat dan jalani sekarang.
Nah, jalan baru itu bagi mata yang lama mungkin terlihat sempit dan terjal, bengkok dan tidak nyata. Sedangkan bagi mata yang baru, jalan baru itu luas, lapang dan nyata adanya.
Dunia ini baik kita inginkan atau kita tidak inginkan, dia akan selalu terus berubah menjadi sesuatu yang baru. Jadi sungguh kasihan orang-orang yang mempertahankan mati-matian mata lama, telinga lama dan pikiran lama, sehingga terpaksa mendengar, melihat dan memikirkan semua hal baru yang menimpanya sebagai siksaan, himpitan, hambatan dan beban semata. Berbahagialah orang-orang yang bersedia mengubah dirinya sehingga memiliki mata baru, telinga baru, pikiran baru untuk menghadapi dan atau menciptakan dunia yang baru, dunia yang indah dan nyata.

