Membangun Persepsi Diri Menuju Ikhlas

Dari komentar Yuti di postingan tentang amanah,
“Bisa ngga ya,persepsi direkayasa, sehingga amanah dilakukan dengan penuh keikhlasan sehingga menjadi optimal?”
Beberapa waktu yang lalu saya diminta membantu teman saya mengerjakan buku tentang Jogja Art & Smart, sebuah buku mengenai seni budaya dan pendidikan di Jogjakarta. Tim teman saya itu yang terlebih dahulu bergabung adalah teman-teman dalam ikatan jama’ah masjid, berpendidikan tinggi [sebagiannya malah dari UGM]. Karakter team work yang dibangun waktu itu katanya adalah bekerja berdasarkan keikhlasan. Jadi mereka bekerja karena ikhlas dan bersiap sedia membantu pengerjaan buku tersebut.
Setelah saya bergabung, yang saya temui pertama kali adalah kemalasan, kurangnya semangat bekerja sungguh-sungguh, dan gagap informasi. Persepsi dan sikap yang menurut saya malah bertentangan dengan konsep ikhlas itu sendiri.
Saya memahami ikhlas sebagai sebuah sikap untuk memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Dalam terjemahan teknis dan kontekstualnya, bisa berupa sudut pandang untuk berhemat terhadap uang dan waktu, bersikap untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin dan sebaik mungkin, mengerahkan segala pikir dan daya tahan. Karena kalau yang terjadi sebaliknya, yaitu kemalasan dan ketidaksungguhan dengan alasan ikhlas, malah akan membuat yang dikerjakan tidak segera selesai dan tidak berwujud yang terbaik, akibat lebih lanjutnya hilangnya waktu dan uang serta kepercayaan dari orang lain dan diri sendiri.
Dari sudut pandang kedirian [egocentris], ikhlas itu berimplikasi tidak adanya imbalbalik yang diterima, kita tidak dibayar uang, bahkan mungkin tidak diberi apapun termasuk sertifikat penghargaan dan biaya transport. Secara ekonomis berarti tidak ada penyangga sumberdaya untuk mengerjakannya. Nalar alamiah menuntut agar pekerjaan itu kemudian dilakukan secepat mungkin dan sebagus mungkin sehingga sebisa mungkin tidak ada sumberdaya yang dikorbankan untuk menyelesaikannya.
Kita kadang terjebak kepada gagasan bahwa sesuatu amanah yang kita jalani merupakan paksaan dari luar, kita membangun nalar terpaksa selama melakukannya. Kita lalu tidak lega, malahan kadang sambil mengikatkan kemarahan di dalamnya.
Padahal kalau kita mau jujur, sungguh tidak ada yang terpaksa dalam setiap proses tindakan kita. Kita melakukannya karena kita memilih melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *