Menguliti Hati

Ada saat ketika manusia menemukan jiwanya dalam kesendirian yang sunyi. Saat ketika manusia tersanding sendirian dengan hatinya yang sesungguhnya.   Tanpa campur tangan manusia lain di sekitarnya, saat itulah waktu yang tepat untuk menjelajahi lebih dalam dan leluasa, untuk menguliti hati. Dalam kesendirian yang demikian sejatinya manusia memiliki kesempatan yang sangat cukup membaca lapis demi lapis hatinya.

Mulai dari lapisan paling luar yang berisi kedengkian, iri dan kebencian kepada setiap kehebatan, ketenaran, kekayaan, kekuasaan yang bukan aku.  Kemudian lapisan kesedihan, keterpurukan dan keterasingan dari setiap yang bukan lingkaranku. Kemudian lapisan hasrat, kebanggaan, kepuasan dari setiap yang aku. Lapisan paling dalam yang berisi kesejukan, ketenangan dan kebahagiaan yang sama sekali tidak mengaku-aku.

Maka kalau manusia hanya sanggup menguliti hatinya sampai lapisan paling luar, sejatinya hidupnya yang kemarin maupun yang esok hanyalah akan berisi kegelisahan yang membara dan terus berkobar dalam mengejar segala sesuatu yang selalu terasa kurang.  Kurang hebat, kurang kaya, kurang tenar, kurang kuasa. Dan anehnya setiap dia capai satu tingkatan dari kurangnya itu, selalu saja makin besar kekurangannya yang harus dia kejar terus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *