ORANG-ORANG BESAR KENTUT

Gus Dur, Puteh, Akbar Tanjung ditambah Priyo Budi Santoso dan Wiranto akan bisa menjadi cerita yang sangat menarik.

Gus dur akhirnya menyusul PKS hidayat nur wahid untuk benar-benar keluar dari percaturan posisi pemimpin eksekutif. Ia memilih berada di luar sistem menjadi oposisi demokrasi Indonesia.

Puteh mengutus OC kaligis untuk memohon perlindungan kepada akbar tanjung atas kasus tuduhan korupsi yang dituntutkan kepadanya. Barangkali ini menyangkut dana 10,2 miliar untuk kemanusiaan aceh yang sampai saat ini tidak jelas dimana rimbanya.

Akbar tanjung bebas dari tuntutan hukum di tingkat kasasi MA atas tuduhan korupsi yang dituntutkan kepadanya. Meski gagal juga sebagai capres dari partai golkar, posisinya sebagai ketua umum masih tampak berpengaruh.

Priyo budi santoso kader muda golkar yang oleh gus dur disebut sebagai anak muda yang mengecewakan “saya kecewa ada anak muda seperti anda”. Sebagai kader muda golkar priyo telah memiliki sikap politik yang kental dengan gaya golkar. Berbicara dengan runut tentang masa depan bangsa dan sikap moral yang luhur dan ajakan untuk ikut bersama golkar mewujudkan itu semua. Terus terang saja priyo memang salah satu anak muda yang mengecewakan. Barangkali juga nusron dan kawan-kawannya yang lain juga menyusul priyo akan segera menjadi anak muda yang mengecewakan.

Muara dari semua itu adalah wiranto. Calon presiden dari partai golkar. Semua kepentingan akan berujung di sana dengan arahnya masing-masing di satu atau lain pihak. Nilai penting wiranto adalah pada posisinya sebagai capres dari partai golkar. Dengan demikian ia harus dibela mati-matian agar golkar dapat tetap memimpin jalannya pembangunan bangsa di masa depan.

—–

Apakah kiranya ada satu saja dari calon presiden itu yang memiliki suatu gagasan yang jelas dan langkah-langkah nyata tentang masa depan bangsa ini. Setidaknya dalam bentuk jawaban atas pertanyaan 4 hal dalam catatan 29 April 2004.

Kalau memang tidak ada itu kecuali janji-janji yang sebagaimana diucapkan kepada massa disaat kampanye lalu, maka barangkali gus Dur benar pada sebagiannya bahwa semua itu omong kosong. Calon-calon presiden itu sama saja. Tidak ada yang layak untuk dipilih. Omong kosong semuanya. Karena memang selama ini bangsa kita telah dibiasakan untuk berpikir secara umum hal-hal yang bersifat ungkapan bukan secara terperinci hal-hal yang bersifat teknis kerangka kerja.

Jadi ketika berbicara masa depan itu artinya benar-benar masa depan yang tidak digambarkan dengan lengkap angka-angkanya yang bisa diukur. Sebuah keinginan saja yang dalam kenyataannya tidak bisa ditarik ke masa kini untuk disiapkan kerangka kerjanya. Jadilah ia benar-benar terletak di masa depan. Dan makin dekat waktu kita ke masa depan itu semakin masa depan itu menjadi masa depan yang jauh.

Sedihnya adalah bangsa ini menderita suatu sakit mata baca, sehingga tidak bisa membaca dalam arti yang sebenarnya maupun membaca dalam makna yang lebih luas. Suatu psikosomatis bangsa yang menyebabkan bangsa ini tidak bisa menjadi bangsa belajar, sebaliknya apabila matanya diajak untuk bersenang-senang dan menghibur diri maka ia akan menjadi cerah berbinar.

Barangkali disinilah akhirnya bisa dijawab mengapa ratu adil dan satrio piningit menjadi memiliki makna/tempat yang tinggi di mata bangsa ini.

Demikian juga dengan ‘dunia lain’, ‘misteri’, ‘jalangkung’, ‘gentayangan’, dan ‘disini ada setan’ menjadi tontonan yang paling ditunggu.

Memang bangsa ini masih sakit. Atau malah mungkin bertambah parah. Begitulah bangsa ini masih dalam kegelapan hati dan pikirannya. Teknologi canggih, harta benda yang melimpah, wilayah luas dan subur serta penduduk yang banyak sekedar bungkus saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *