ORANG ORANG SEMU

Hari ini saya bertemu dengan orang-orang dari dunia pariwisata jogja dan jawa tengah. Mereka adalah manajer beberapa hotel [casa grande club], kepala badan pariwisata daerah jogja dan kepolisian pariwisata jogja.

Di bidang pariwisata ternyata juga tidak terlalu banyak hal yang bisa disebut sebagai rencana yang matang atau rencana yang baik tentang pengembangan pariwisata daerah.

Bahkan mungkin juga tidak tahu sebenarnya kita ini punya apa untuk dijual sebagai obyek pariwisata, event budaya, keunikan lokal, infrastruktur wisata, dan bagaimana kondisi dari masing-masing itu.

Sulit untuk melakukan sesuatu dengan benar tanpa kita mengetahui lebih dahulu bagaimana situasinya sekarang dan bagaimana melakukan program-program mewujudkan suatu tujuan masa depan dengan berangkat dari situasi sekarang itu.

Titik tolak yang salah tentu saja akan membawa kepada tujuan yang salah. Karena segala sesuatunya menjadi tidak bersesuaian. Irama sistem tidak mungkin terbentuk.

Sedihnya adalah hal hal demikian terjadi pada hampir semua bagian pengurusan negeri ini.

Tentu saja semua orang bicara harapan-harapan masa depan yang akan diwujudkan yang ingin dicapai. Tetapi kalau semua tidak melakukan kerja pencapaian menurut cara-cara yang seharusnya ditempuh agar harapan itu bisa terwujud, tentu saja semuanya itu tinggal harapan kosong yang tidak akan terwujud. Hanya sekedar menipu diri sendiri jadinya.

Di sisi lain ada orang orang yang dengan penuh semangat mengungkapkan harapan-harapan itu dan cenderung membuat janji-janji bahwa itu pasti akan terwujud dalam waktu yang ditetapkan. Tanpa rencana yang matang, terstruktur dan batasan-batasan yang jelas serta terdokumentasi dengan baik bagaimana bisa dianggap hal-hal itu dapat terwujud.

Kita menginginkan sesuatu terjadi di masa depan dalam bentuk yang menguntungkan kita. Kesalahan kita hanyalah satu, bahwa kita tidak melakukan sesuatu untuk membuat bentuk itu terjadi. Kita anehnya tetap mengatakan itu sampai kemudian ketika waktu itu tiba barulah kita tersadar bahwa bentuk yang kita inginkan itu tidak terwujud.

Karena kesombongan kita, hal itu membuat kita marah dan menimpakan kesalahan kepada orang lain. Atau kepada Tuhan.Kita jarang mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan, bahwa kita bodoh dengan tidak melakukan sesuatu pun untuk mewujudkan bentuk itu. Kita marah karena kita akhirnya menyadari bahwa keinginan kita itu akhirnya tidak terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *