Selasa Bersama Morie

Selasa, bersama Mori.

Ketegaran ketika menghadapi saat saat sulit dan bahkan saat saat kematian adalah jarang didapati ada pada orang orang kebanyakan. Hanya orang tertentu yang sedikit saja. Mori adalah salah satunya.

Dengan ketegaran menghadapi kenyataan bahwa kematiannya telah ditetapkan, ia melakukan perenungan dan kajian kajian yang mendalam tentang hidup dan kehidupan yang dijalaninya. Ia tidak menarik diri dari kehidupan sosial kecuali pada saat di mana ia memang sudah tidak dapat lagi bergerak ke mana mana dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya.

Bahkan dalam berbaring ia masih terus melakukan ceramah tentang hidup yang sebenarnya, hidup yang seharusnya dilakukan oleh orang orang pada jaman sekarang.

Kesederhanaan dan rasa kecukupan terhadap apa yang dimiliki tanpa mencari dengan berlebihan. Tidak menghamburkan segala sumberdaya yang ada untuk hal-hal yang tidak perlu atau bersifat hura-hura dan kesenangan belaka. Kesadaran mengenai maksud dan tujuan hidup, eksistensi dan fungsi ruang waktu terhadap seseorang.

Jadi mengapa harus diam dan menyepi dalam kekosongan yang tidak berarti. Keletihan akibat menjalani hidup yang sulit bukankah sekedar kembang tumbuh mekar yang akan memucukkan buahnya nanti, ketika musimnya tiba.

Time’s up. Karena waktu telah mencapai batas akhirnya. Apa yang harus diselesaikan mustinya segera diselesaikan. Tidak dapat lagi membeli waktu untuk hal hal yang tidak dapat mencapai manfaat.

Dan kerinduan telah memberikan kabar dan tanda yang jelas. Kerinduan akan hadirnya Engkau Ilahiah. Seperti sesungguhnya Engkau tidak pernah menjauh dariku, akulah yang selalu bodoh dibujuk kedhaliman dengan menjauh dariMu. Dan kerinduan kepada Mu semakin nyata kuatnya.

Maka bawalah aku serta dan raihlah aku dalam asuhan Mu dekaplah aku dalam lenganMu yang sejuk dan meluaskan. Aku rindu.

Rindu bersamaMu mengalami jiwa yang segar dan tenteram. Jiwa yang merdeka dari kekalahan dan kebodohan. Rindu mengayun langkah dalam indahnya kepastian yang terang benderang. Maka tiada lagi kerisauan yang membimbangkan.

Aku rindu. KepadaMu, Yang Satu.

Dan esok hariku kan cerah. Meski kini begitu sulit dan memberatkan. Yang tiada atau yang ada kan kutempuh juga di bawah asuhanMu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *